Kolaborasi Epik: Saat Sejarah Bangsa Menjelma dalam Panggung Drama Kelas 11 SMKN 1 Randudongkal

11 May 2026 Admin

Randudongkal – Riuh tepuk tangan dan dekorasi estetik memenuhi Ruang Pertemuan SMK Negeri 1 Randudongkal. Bukan sekadar perayaan biasa, siswa-siswi kelas 11 tengah menempuh Ujian Praktik Kolaborasi yang mempertemukan dua disiplin ilmu: Bahasa Indonesia dan Sejarah. Pentas drama ini berlangsung selama dua pekan, mulai dari tanggal 11 hingga 22 Mei 2026, di mana proses penilaian dilaksanakan secara bergilir bagi setiap kelas.

Kegiatan bertajuk "Merawat Ingatan melalui Seni Peran" ini menantang siswa untuk mengalihwahanakan peristiwa-peristiwa besar sejarah Indonesia ke dalam naskah drama yang dimainkan dengan penuh penghayatan.

Sinergi Bahasa dan Histori

Dalam ujian praktik ini, penilaian dilakukan dari dua sudut pandang. Mata pelajaran Sejarah menilai akurasi fakta dan esensi peristiwa yang diangkat, sementara Bahasa Indonesia menilai struktur naskah, intonasi, teknik peran, hingga pemilihan diksi dalam dialog.

Salah satu guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bapak Aditya Bagus Respati N, S.Pd., mengungkapkan kebanggaannya atas dedikasi para siswa.

"Seni drama bukan hanya soal akting di depan layar, tapi bagaimana siswa mampu membedah karakter tokoh sejarah dan menuangkannya dalam dialog yang bernyawa. Kolaborasi ini melatih siswa untuk berpikir kritis sekaligus kreatif. Saya melihat potensi besar dari anak-anak SMK kita dalam mengolah rasa dan bahasa," ujar Pak Aditya di sela-sela penilaian.

Menghidupkan Kembali Pahlawan di Era Modern

Berbagai fragmen sejarah ditampilkan dengan apik, mulai dari ketegangan peristiwa Rengasdengklok, perjuangan di Surabaya, hingga sisi humanis para pahlawan nasional. Properti yang digunakan pun cukup kreatif, memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar sekolah untuk membangun suasana masa lalu.

Kepala SMK Negeri 1 Randudongkal, Bapak Djumiko, S.Pd., M.Si., turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inovasi pembelajaran lintas mapel ini. Beliau menegaskan bahwa metode seperti ini sangat efektif untuk menghilangkan kejenuhan siswa dalam belajar teori.

"Ujian praktik kolaborasi ini adalah bukti bahwa belajar sejarah tidak harus membosankan dan belajar bahasa tidak selalu soal teori. Kami ingin mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis di kejuruannya, tapi juga memiliki karakter nasionalisme yang kuat serta kemampuan komunikasi yang baik melalui seni," ungkap Bapak Djumiko.

Harapan ke Depan

Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa kelas 11 SMK Negeri 1 Randudongkal tidak hanya mendapatkan nilai akademik, tetapi juga memetik nilai-nilai perjuangan yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan evaluasi dari para guru pendamping setelah seluruh rangkaian giliran tampil selesai dilaksanakan. Sukses terus untuk para pejuang seni dan sejarah SMKN 1 Randudongkal! 
SMK Bisa, SMK Hebat!